Pembelajaran Daring, Spiritualitas Jangan Kering

Jika dihitung sejak Maret hingga November tahun ini, maka para peserta didik sudah diinstruksikan untuk melaksanakan belajar dari rumah atau Learn Form Home (LFH) selama kurang lebih 8 bulan. Belajar di rumah erat kaitannya dengan belajar dalam jaringan (daring), sebab piranti yang dibutuhkan tidak lagi tatap muka, namun online (daring). Efektivitas dari pembelajaran daring tentu tidak sebaik tatap muka, sehingga kreativitas dan inovasi dari para pendidik penting untuk terus digalakkan. Pun pendampingan yang lebih intensif dari orang tua untuk pembelajaran anak-anaknya juga menjadi komponen penting keberhasilan belajar dari rumah.

Ada salah satu aspek yang sedikit demi sedikit terabaikan dalam pelaksanaan pembelajaran daring ini. Jika sebelumnya peserta didik di lingkungan sekolah terus diingatkan dan dipantau secara langsung kegiatan spiritual keagamaan mereka, di cara daring ini para pendidik kesulitan memantau secara langsung, apalagi satu per satu. Sebelum penerapan pembelajaran daring, peserta didik dibiasakan melakukan kegiatan spiritual misalnya dengan berdoa bersama, shalat berjamaah, wirid berjamaah, agenda hari besar keagamaan, bahkan ada lembaga pendidikan yang menerapkan puasa sunnah bersama. Di masa pandemi ini lain ceritanya, kontrol kegiatan spiritual peserta didik mungkin hanya bisa didapat dari laporan-laporan online dengan form-form tertentu atau foto dan video singkat. Padahal jika dibiarkan terus menerus, spiritual mereka bisa kering.

Belum lagi kendala-kendala yang dihadapi pada penerapan sistem daring, mulai dari ketidaktersediaan perangkat HP, kesulitan signal jaringan internet, ketidaktersediaan infrasturktur komunikasi hingga keterbatasan dana untuk pembelian kuota, sebab para orang tua peserta didik juga mengalami penurunan pendapatan. Quality control dari spiritualitas peserta didik menjadi lebih sulit. Hal ini membutuhkan sistem yang tepat, sehingga meskipun tidak seefektif ketika tatap muka, namun tetap ada upaya maksimal untuk menuju kualitas spiritual yang baik, maa laa yudroku kulluh, laa yutroku kulluh.

Ada beberapa hal yang dapat diupayakan untuk menjaga spiritualitas peserta didik tidak kering. Misalnya pertama, komunikasi antara pihak lembaga pendidikan dan orang tua peserta didik harus dibangun dengan apik. Orang tua peserta didik diminta mendampingi anak-anaknya untuk tetap melakukan hal-hal yang dibiasakan di lembaga pendidikan, seperti mengaji, shalat berjamaah di rumah dan sebagainya, hal ini memang cukup berat, mengingat orang tua juga berpikir ekstra untuk ekonomi, namun sebisa mungkin pendampingan orang tua murid menjadi kunci.

Kedua, inovasi dan kreativitas dari pihak lembaga pendidikan dalam mengupayakan kontrol kualitas spiritual seperti pada kegiatan tatap muka, namun tidak memberatkan peserta didik dan orang tua mereka, seperti menyiapkan aplikasi teknologi, menjalin komunikasi via media sosial dan bahkan dapat dilakukan dengan mendatangi kediaman peserta didik (home visit).

Ketiga, lembaga pendidikan perlu menyiapkan bahan ekstra untuk terus mengingatkan peserta didik agar jangan kendor dalam hal spriritual, misalnya dengan menyediakan konten-konten keagamaan di kanal media sosial atau media lainnya, melakukan tahlil bersama secara daring, melakukan live event pengajian keagamaan untuk disaksikan peserta dan sebagainya. Variasi konten yang menarik juga dapat menjadi upaya untuk terus mengajak siswa mempertebal iman dan menjaga spiritualitas keagamaan.

Keempat, peran serta seluruh komponen terutama tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintah untuk menjaga generasi penerus bangsa dari kekeringan rohani. Peran serta ini dapat dilakukan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing. Misalnya pemerintah setempat dapat memberikan paket kuota gratis untuk kanal-kanal keagamaan selama masa pandemi ini, sedangkan tokoh agama dapat terus menyuarakan pentingnya terus mendekatkan diri kepada Tuhan dalam segala situasi dan kondisi.

Pada akhirnya kita semua berharap pandemi ini segera hilang atas izin Allah. Namun berbagai ikhtiyar tetap harus dilakukan agar pandemi ini tidak menyasar terlalu dalam ke berbagai aspek, termasuk aspek pendidikan dan spiritual keagamaan.

Wahyu Irvana

Wakil Ketua Aswaja NU Center PCNU Nganjuk

Wakil Ketua LP Ma’arif PCNU Nganjuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *